RESUME
Judul : Corporate Finance, 9th Edition
Pengarang : Stephen A. Ross, Randolph W. Westerfield, Jeffrey Jaffe
Penerbit : McGraw-Hill Irwin
Tahun
Terbit : 2010
Judul
Bab : Chapter 1 Introduction to Corporate Finance
1.1. Keuangan
Perusahaan
A.
Model
Laporan Posisi Keuangan Perusahaan
Tujuan perusahaan
adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi pemiliknya. Nilai ini tercermin
dalam kerangka sederhana laporan posisi keuangan, dimana aset berada di sisi
kiri sedangkan liabilitas dan ekuitas berada di sisi kanan. Artinya, sebelum
perusahaan berinvestasi pada aset, perusahaan harus mendapatkan dana untuk
membiayai investasi tersebut yaitu dari hutang (liabilitas) atau modal pemilik
(ekuitas). Dari model Laporan Posisi Keuangan perusahaan, dapat dikatakan bahwa
Keuangan (Finance) berfokus pada hal-hal berikut:
a.
Anggaran
Modal (Capital Budgeting) adalah proses untuk memperoleh dan mengelola
pengeluaran untuk aset jangka panjang
b.
Struktur
Modal (Capital Structure) adalah penggambaran proporsi pembiayaan
perusahaan dari hutang dan ekuitas jangka pendek dan jangka panjang
c.
Modal
Kerja Bersih (Net Working Capital) yaitu aset lancar dikurangi dengan
kewajiban lancar. Permasalahan arus kas jangka pendek sering terjadi akibat ketimpangan
arus kas masuk dan arus kas keluar.
B.
Manajer/Pengelola
Keuangan
Susunan pengelola keuangan pada perusahaan
besar biasanya terdiri atas Direktur sebagai pimpinan puncak, Ketua Dewan dan Chief
Excecutif Officer (CEO), Presiden dan Chief Operational Officer
(COO), Wakil Presiden dan Chief Financial Officer (CFO). Di bawah CFO
ini terdapat Bendahara dan Pengawas. Bendahara bertanggung jawab terhadap
pengelolaan arus kas, keputusan belanja modal (investasi) dan membuat rencana
keuangan. Sedangkan pengawas melaksanakan fungsi akuntansi termasuk perpajakan,
akuntansi biaya dan keuangan, serta sistem informasi.
1.2. Bentuk
Organisasi Bisnis
Bisnis merupakan
suatu cara mengatur kegiatan ekonomi banyak orang. Masalah dasar yang dihadapi
suatu perusahaan adalah bagaimana cara mengumpulkan uang. Tiga bentuk dasar
hukum perusahaan sebagai berikut:
A.
Perusahaan
Perseorangan (The Sole Proprietorship) adalah bisnis yang dimiliki oleh
satu orang. Faktor penting dari perusahaan perseorangan yaitu: pembentukannya
murah; tidak membayar pajak badan, melainkan pajak individu; pemilik memiliki
tanggung jawab yang tidak terbatas atas hutang dan modal; umur perusahaan
terbatas pada pemiliknya; dan ekuitas hanya dapat ditingkatnya sebatas kekayaan
pemilik.
B.
Persekutuan
(Partnership) yaitu kumpulan dua orang atau lebih yang membentuk
persekutuan. Persekutuan terdiri atas:
a.
Persekutuan
Umum yaitu persekutuan yang tanggung jawab masing-masing anggotanya sama.
b.
Persekutuan
Terbatas yaitu persekutuan yang keterlibatan anggotanya berbeda-beda. Biasanya
terdapat sekutu aktif dan sekutu pasif.
C.
Perseroan/Korporasi
(Corporation). Perusahaan terdiri atas saham-saham sehingga terdapat
perbedaan antara pemilik dan manajer perusahaan. Kelebihan perusahaan perseroan
yaitu:
a.
Kepemilikan
dapat dengan mudah dipindahkan;
b.
Umur
perusahaan tidak terbatas pada umur pemiliknya;
c.
Tanggung
jawab pemegang saham terbatas pada jumlah yang diinvestasikan
Kelemahan bentuk usaha perseroan antara lain pengenaan
pajak ganda yaitu pajak atas penghasilan perusahaan dan pajak pribadi atas
deviden yang diterima pemegang saham. Bentuk usaha korporasi memiliki banyak
nama di berbagai negara. Hal ini tergantung pada peraturan di negara tersebut.
Ada yang menyebutnya sebagai perusahaan terbatas publik, perusahaan saham
gabungan, maupun perseroan terbatas.
1.3. Pentingnya
Arus Kas
Perusahaan
mendapatkan uang adalah dengan cara membeli aset atau menjual saham atau
instrumen keuangan lain yang menghasilkan lebih banyak uang daripada biaya yang
dikeluarkan.
A.
Arus
Kas di antara Perusahaan dan Pasar Modal
Untuk memperoleh
uang, perusahaan menjual saham di pasar modal atau memperoleh pinjaman dari
investor. Kemudian, dana tersebut akan diinvestasikan dalam bentuk aset oleh
perusahaan. Perusahaan kemudian menggunakan kas untuk membayar deviden kepada
para pemegang saham/ bunga pada para pemegang obligasi. Perusahaan juga
menggunakan kas untuk membayar pajak, dan sisanya ditahan (sebagai cadangan
laba). Apabila kas yang dibayarkan pada pemegang saham/obligasi lebih besar
daripada kas yang diperoleh dari pasar modal, maka dikatakan perusahaan
menghasilkan Nilai (Value).
B.
Mengidentifikasi
Arus Kas
Tidak mudah
mengidentifikasi arus kas secara langsung. Kita perlu melakukan analisis
terhadap laporan keuangan perusahaan. Sebagai contoh Pendapatan dari penjualan
secara kredit sudah diakui dan dicatat pada Laporan Rugi Laba dan Penghasilan
Komprehensif meskipun kenyataannya belum terjadi arus kas masuk.
C.
Periode
/ Kapan Terjadinya Arus Kas
Nilai dari suatu
investasi tergantung pada kapan terjadinya arus kas. Satu hal penting dalam
manajemen keuangan adalah perusahaan akan lebih memilih menerima kas saat ini
daripada nanti. Apabila terdapat beberapa pilihan investasi, sebelum mengambil
keputusan, perusahaan harus melakukan perhitungan manakah investasi yang
memberikan nilai sekarang yang lebih besar.
D.
Resiko
Arus Kas
Jika terdapat
beberapa pilihan investasi, perusahaan harus melakukan analisis keuangan secara
menyeluruh sebelum mengambil keputusan. Biasanya pilihan investasi dengan
resiko yang tinggi menawarkan keuntungan yang lebih besar. Perusahaan harus
dapat mengidentifikasi apa resikonya dan bagaimana cara mengatasinya sebelum
mengambil keputusan.
1.4. Tujuan
Manajemen Keuangan
Umumnya kita menyebut bahwa tujuan
manajemen keuangan adalah untuk survive, menghindari kebangkrutan,
meminimalkan biaya, memaksimalkan keuntungan, atau mempertahankan stabilitas
pertumbuhan. Tetapi tujuan-tujuan tersebut justru memberikan permasalahan pada
manajer keuangan. Tujuan-tujuan tersebut terbagi dalam dua kategori besar
yaitu: untuk mendapatkan keuntungan yang besar dan menghindari kebangkrutan
atau mempertahankan stabilitas. Kedua tujuan ini bertentangan, karena
perusahaan pasti akan menghadapi resiko jika ingin memaksimalkan keuntungan.
Karena itu manajemen keuangan perlu satu tujuan yang dapat merangkum kedua hal
tersebut.
Tujuan utama manajemen keuangan
seharusnya adalah untuk mengambil keputusan yang dapat memaksimalkan nilai
saham saat ini. Pemegang saham memiliki hak residual dalam perusahaan, artinya
jika hak karyawan, pemasok dan kreditur sudah terpenuhi, maka para pemegang
saham baru mendapatkan bagiannya. Jika para pemegang saham mendapatkan
keuntungan, maka bisa dipastikan bahwa kewajiban kepada pihak lain pun sudah
terpenuhi.
Manajer keuangan harus mampu
mengidentifikasi investasi dan pendanaan yang dapat berpengaruh terhadap saham.
Keuangan perusahaan berfokus pada hubungan antara pengambilan keputusan, arus
kas dan nilai saham perusahaan.
Karena perusahaan tidak hanya
berbentuk perseroan, maka secara umum, tujuan manajemen keuangan adalah
memaksimalkan nilai ekuitas pemilik saat ini.
1.5. Masalah
Keagenan dan Pengendalian Perusahaan
Pada perusahaan besar yang
sahamnya dipegang oleh banyak orang, akan timbul permasalahan apakah manajemen
akan bertindak untuk kepentingan pemegang saham atau untuk keuntungan sendiri.
A.
Hubungan Keagenan
Hubungan antara pemegang
saham dengan manajemen disebut hubungan keagenan (Agency Relationship).
Hubungan ini terbentuk ketika seseorang (principal) merekrut
orang lain (agent) untuk melakukan tindakan untuk kepentingannya dengan
imbalan tertentu. Hal ini dapat menimbulkan konflik kepentingan yang disebut
masalah keagenan (agency problem).
B.
Tujuan Manajemen
Agency cost (biaya agen) adalah biaya yang
terjadi akibat konflik kepentingan antara pemegang saham dan manajemen. Agency
cost dapat dibedakan menjadi biaya langsung dan tidak langsung. Biaya tidak
langsung yaitu hilangnya kesempatan, contohnya ketika pemegang saham kehilangan
suatu kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar karena di satu sisi
manajemen menolak suatu investasi yang beresiko tinggi. Biaya langsung dapat
terjadi dari dua hal yaitu: pengeluaran perusahaan yang menguntungkan manajemen
tetapi membebani pemegang saham dan biaya untuk memantau tindakan manajemen, contohnya
biaya untuk membayar auditor.
Ada kecenderungan
manajemen memiliki tujuan untuk meningkatkan skala bisnis, menunjukan kekuatan
perusahaan dan tidak menyukai campur tangan pihak lain. Apakah manajemen akan
bertindak untuk kepentingan pemegang saham itu tergantung pada dua faktor
yaitu: seberapa dekat tujuan pemegang saham dengan tujuan manajemen dan apakah
akan dilakukan penggantian manajer jika mereka tidak dapat memenuhi kepentingan
pemegang saham.
C.
Kompensasi
Manajemen
Manajemen akan
berusaha untuk memenuhi kepentingan pemegang saham, setidaknya karena
kompensasi berikut:
a.
Kompensasi
manajemen yang terkait dengan performa di bidang keuangan, contohnya manajer
seringkali diberikan kesempatan untuk membeli saham dengan harga murah.
b.
Kompensasi
terkait prospek di dunia kerja. Seorang manajer yang berhasil memenuhi kepentingan
pemegang saham biasanya akan diberikan kenaikan pangkat dan kenaikan gaji.
D.
Kendali
Perusahaan
Kendali
perusahaan berada di tangan para pemegang saham. Para pemegang saham dapat
menunjuk direktur, serta mengangkat dan memberhentikan manajer. Suatu tindakan
yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengendalikan perusahaan dan
mengganti susunan manajemen yang ada disebut Proxy Fight. Selain itu,
cara lain untuk mengganti manajemen yaitu dengan pengambilalihan perusahaan (take
over). Untuk mencegah pengambilalihan perusahaan oleh pihak lain, manajer
akan berusaha untuk memenuhi kepentingan para pemegang saham.
E.
Pemangku
Kepentingan
Selain pemegang
saham dan kreditur, terdapat pihak lain yang juga memiliki kepentingan terhadap
perusahaan, contohnya karyawan, pelanggan, pemasok, dan pemerintah yang
biasanya disebut para pemangku kepentingan (stakeholders). Para pemangku
kepentingan ini mungkin saja akan berusaha mendapatkan kendali atas perusahaan.
1.6. Peraturan
Selain para
pemegang saham dan manajemen, peraturan yang berlaku juga harus dipertimbangkan
dalam pengambilan keputusan. Terdapat aturan yang mengharuskan pengungkapan
yang relevan dan memadai mengenai kondisi perusahaan kepada calon investor atau
kreditur sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat. Di Amerika
Serikat terdapat The Security Act of 1933 dan The Securities Exchange Act of
1934 yang merupakan kerangka dasar perdagangan umum sekuritas. Selain itu,
untuk melindungi investor dari penyalahgunaan wewenang di perusahaan ditetapkan
Undang-Undang Sarbanex-Oxley (Sarbox) pada tahun 2002. Salah satu poin pada
Sarbox yaitu melarang pinjaman pribadi kepada manajer/ orang dalam perusahaan. Sarbox
juga membuat manajemen perusahaan memastikan tanggung jawabnya terhadap
keakuratan laporan keuangan perusahaan. Penerapan peraturan tentu saja akan
menimbulkan biaya bagi perusahaan. Biaya
dikeluarkan contohnya adalah biaya untuk auditor independen.
---000---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar