1.1. Tanggung Jawab Auditor
Tujuan audit atas laporan keuangan
adalah untuk memungkinkan auditor menyatakan suatu opini apakah laporan
keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan standar
akuntansi yang berlaku.
Pada SAS 1 AU 110 menyatakan bahwa
auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna
memperoleh kepastian yang layak tentang apakah laporan keuangan telah bebas dari
salah saji yang material. Karena sifat bukti dan karekteristik kecurangan,
auditor dapat memperoleh kepastian yang layak tetapi tidak absolut, bahwa salah
saji yang material dapat dideteksi. Bila auditor juga melaporkan tentang
keefektifan pengendalian internal atas pelaporan keuangan, auditor juga
bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kelemahan yang material dalam
pengendalian internal atas pelaporan keuangan.
Salah saji umumnya dianggap material
jika gabungan dari kekeliruan dan kecurangan yang belum dikoreksi dalam laporan
keuangan kemungkinan akan mengubah atau mempengaruhi keputusan orang yang
menggunakan laporan keuangan tersebut. Walaupun sulit mengukur materialitas,
auditor bertanggung jawab memperoleh kepastian yang layak bahwa ambang batas
materialitas ini telah terpenuhi.
Kepastian atau assurance merupakan
ukuran tingkat kepastian yang diperoleh auditor pada saat menyelesaikan audit.
SAS 104 menyatakan bahwa kepastian yang layak adalah tingkat kepastian yang
tinggi tetapi tidak absolut bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji
material. Auditor bukanlah pemberi garansi atau penjamin atas kebenaran laporan
keuangan. Auditor bertanggung jawab atas kepastian yang layak tetapi tidak
absolut karena beberapa alasan berikut:
a. Sebagian
besar bukti audit diperoleh dari pengujian sampel populasi yang mengandung
sejumlah resiko tidak terungkapnya salah saji material.
b. Penyajian
akuntansi mengandung estimasi yang kompleks yang melibatkan ketidakpastian
serta dipengaruhi peristiwa-peristiwa di masa depan, sehingga auditor
mengandalkan pada bukti yang persuasif tetapi tidak meyakinkan.
c. Laporan
keuangan yang disusun dengan penuh kecurangan seringkali sangat sulit dideteksi
oleh auditor, apalagi bila ada kolusi di kalangan manajemen.
Jika auditor bertanggung jawab untuk
memastikan bahwa semua asersi dalam laporan keuangan telah benar, maka
persyaratan bukti audit dan biaya pelaksanaan fungsi audit akan meningkat
sehingga pelaksanaan audit secara ekonomis tidak praktis lagi. Pembelaan
terbaik yang dapat dilakukan auditor apabila salah saji yang material tidak
terungkap adalah melaksanakan audit sesuai dengan standar auditing.
1.2.
Jasa
Assurans
Jasa
assurans adalah jasa professional independen yang meningkatkan kualitas
informasi bagi para pengambil keputusan. Jasa assurans membantu meningkatkan
keandalan dan relevansi informasi sebagai dasar pengambilan keputusan. Jasa
assurans dapat dilakukan oleh akuntan publik atau oleh berbagai professional
lainnya.
Salah satu
kategori jasa assurans yang diberikan oleh akuntan publik adalah jasa atestasi.
Jasa atestasi adalah jenis jasa assurans dimana KAP mengeluarkan laporan
tentang reliabilitas suatu asersi yang disiapkan pihak lain. Jasa atestasi
dibagi menjadi lima kategori:
a.
Audit atas
laporan keuangan historis;
Suatu bentuk jasa atestasi
dimana auditor mengeluarkan laporan tertulis yang menyatakan pendapat tentang
apakah laporan keuangan tersebut telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan
GAAP. Audit ini merupakan jasa yang paling umum diberikan oleh KAP.
b.
Atestasi
mengenai pengendalian internal atas pelaporan keuangan;
Auditor diharuskan
memberikan atestasi mengenai efektivitas pengendalian internal atas pelaporan
keuangan, karena pengendalian internal yang efektif mengurangi kemungkinan
salah saji dalam laporan keuangan mendatang,
c.
Review laporan
keuangan historis;
Akuntan publik hanya
memberikan tingkat kepastian yang moderat atau sedang untuk review atas
laporan keuangan jika dibandingkan dengan tingkat kepastian yang tinggi untuk
audit sehingga lebih sedikit bukti yang diperlukan.
d.
Jasa atestasi
mengenai teknologi informasi;
Banyak fungsi bisnis seperti
pemesanan dan pembayaran dilakukan melalui internet atau secara langsung
antarkomputer dengan menggunakan Electronics Data Interchange (EDI). Para pelaku bisnis meminta kepastian yang
lebih tinggi mengenai informasi transaksi dan sistem pengamanan yang
melindunginya. Contoh jasa assurans yang dikembangkan yaitu WebTrust dan
Systrust. Ketika menggunakan jasa WebTrust, KAP mengukur apakah situs
web perusahaan sesuai dengan 5 prinsip trust service yaitu: keamanan,
ketersediaan, integritas pemrosesan, privasi online dan kerahasiaan. Sedangkan
jasa SysTrust menyediakan keyakinan pada manajemen, dewan direksi atau pihak
ketiga mengenai keandalan dari sistem informasi yang digunakan untuk
menghasilkan informasi real-time.
e.
Jasa atestasi
lain yang dapat diterapkan pada berbagai permasalahan.
Sebagian besar jasa assurans
lain yang diberikan oleh akuntan publik tidak memenuhi definisi jasa atestasi
tetapi akuntan tetap harus independen dan harus memberikan kepastian tentang
informasi yang digunakan oleh pengambil keputusan.
Elemen
kunci dari perikatan asurans:
a.
Hubungan tiga
pihak: auditor/praktisi, pemangku kepentingan, dan pihak yang memberikan asersi
b.
Subject atau
materi yang diaudit: Data (informasi keuangan atau proyek bisnis), sistem dan
prosedur (cth: sistem pengendalian internal, sistem komputerisasi), Perilaku
(kepedulian terhadap lingkungan, corporate governance)
c.
Kriteria yang
sesuai: praktisi yang memberikan jasa assurans harus memiliki sesuatu yang
dapat digunakan untuk menilai apakah suatu informasi itu dapat diandalkan dan
dapat dipercaya, misalnya terkait laporan keuangan yang digunakan adalah
Standar Akuntansi.
d.
Bukti yang cukup
dan tepat untuk mendukung opini audit
e.
Laporan tertulis:
diperlukan laporan assurans secara tertulis untuk diberikan kepada pengguna
yang dituju dan berisi informasi tertentu yang ditentukan untuk menambah
kepastian bahwa jaminan yang diberikan jelas dan tegas.
Tingkatan Assurans
a.
Perikatan
assurans rasional
Auditor memberikan jaminan
yang tinggi tetapi tidak absolut bahwa informasi yang diaudit bebas dari salah
saji material dan dituangkan dalam pernyataan positif pada laporan audit.
b.
Perikatan
assurans terbatas
Praktisi memberikan jaminan
tingkat sedang bahwa informasi yang dilakukan review bebas dari salah saji
material. Hal ini dituangkan dalam laporan dengan kalimat negatif.
Perbedaan utama dua tipe assurans tersebut adalah:
bukti yang diperoleh dan opini yang diberikan.
Beberapa pemikiran terkait audit dan
jasa asurans:
a.
Audit dapat
meningkatkan kredibilitas
b.
Tidak dapat
menjamin kelangsungan di masa depan
c.
Tidak dapat
menjadi efektivitas dan efisiensi
d.
Memberikan
jaminan yang rasional tetapi tidak absolut
e. Keterbatasan bawaan dalam audit menyebabkan
kesulitan auditor mendeteksi fraud
f.
Pekerjaan audit
memungkinkan penilaian yang subjektif
Informasi
yang Benar (True) dan Adil (Fair)
a.
Informasi
dikatakan benar (true) apabila informasi
bersifat faktual dan sesuai dengan kenyataan, tidak salah. Selain itu,
informasi tersebut sesuai dengan standar dan hukum yang dipersyaratkan. Akun-akun
telah diambil dengan benar dari buku atau catatan.
b.
Informasi
dikatakan adil (fair) jika informasi
bebas dari diskriminasi dan bias sesuai dengan standar dan aturan yang
diharapkan. Akun-akun harus mencerminkan substansi komersial dari transaksi
yang mendasari perusahaan.
Persyaratan
Utama Profesional:
a.
Integritas
b.
Objektivitas
c.
Kompetensi
Profesional dan Kehati-hatian
d.
Kerahasiaan
e.
Perilaku
Profesional
Manfaat
Jasa Assurans:
a.
Pengguna
mendapatkan verifikasi dari seorang yang professional
b.
Perusahaan
menjadi lebih terpercaya
c.
Mengurangi
resiko kesalahan atau fraud dan bias
oleh manajemen
d.
Meningkatkan
perhatian pengguna jika dari hasil review diketahui terdapat inefisiensi
e.
Meningkatkan
kualitas informasi yang bemanfaat bagi investor
Keterbatasan
Jasa Assurans:
a.
Auditor tidak
mengawasi proses penyusunan laporan keuangan dari awal sampai akhir.
b.
Sistem akuntansi
dan pengendalian internal yang dapat diandalkan oleh penyedia assurans juga
memiliki keterbatasan yang melekat.
c.
Sebagian besar
bukti audit bersifat persuasif daripada konklusif.
d.
Praktisi
assurans tidak akan menguji setiap item dalam informasi (menggunakan sampling).
e.
Anggota staf
klien mungkin berkolusi dalam penipuan yang kemudian dapat dengan sengaja menyembunyikan
kebenaran dari auditor atau memberikan gambaran yang salah kepada mereka.
f.
Ketentuan assurans
dapat menjadi subjektif dan penilaian profesional harus dibuat (misalnya,
tentang aspek apa dari permasalahan yang paling penting, berapa banyak bukti
yang harus diperoleh, dll.).
g.
Beberapa hal
dari informasi perlu dilakukan estimasi dan mengandung ketidakpastian.
h.
Sifat laporan
asurans itu sendiri mungkin membatasi, karena setiap pertimbangan dan
kesimpulan yang diambil asurans tidak dapat dimasukkan di dalamnya
Kesenjangan
Harapan
Kesenjangan
harapan berarti kesenjangan antara apa yang dipahami oleh penyedia jasa
assurans dan apa yang diyakini oleh pengguna informasi. Hal ini sering terjadi
karena pengguna tidak menyadari sifat dari batasan ketentuan jasa assurans,
atau tidak memahaminya dan percaya bahwa penyedia assurans menawarkan layanan
(seperti jaminan kebenaran) yang sebenarnya tidak. Perbedaan antara jaminan
yang wajar dan terbatas juga dapat disalahpahami oleh pengguna.